Opini #1: Krisis Moral Remaja Indonesia

 Krisis Moral Remaja Indonesia

Sudah banyak kasus tentang krisis moral remaja membuat miris setiap kalangan masyarakat yang peduli dengan nilai moral bangsa Indonesia. Banyak kasus yang tersebar di media sosial seperti Instagram yaitu pembulian fisik maupun kata-kata terhadap sesama temannya disalah satu sekolah menengah pertama. Ataupun contoh lain adalah seorang siswa menantang dan berani memukul gurunya ketika dia tidak mau ditegur karena kesalahannya, seperti yang dilansir okezone.com di halaman webnya. Contoh-contoh lain adalah tawuran antar siswa, merokok, kekerasan dan masih banyak lagi. Data dari UNICEF tahun 2016 diperkirakan kasus kekerasan pada remaja Indonesia mencapai 50 persen. Selain kekerasan perilaku menyimpang remaja saat ini juga mengarah pada seks bebas. Menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, tingkat kenakalan remaja yang hamil dan mencoba melakukan aborsi mencapai 58 persen. Tidak hanya itu penyimpangan remaja pada miras, narkoba juga sangat memprihatinkan, hingga remaja indonesia mengalami krisis penurunan moral. Lalu apa faktor penyebab krisis moral tersebut?

Berbicara tentang faktor penyebab krisis moral remaja Indonesia, tidak terlepas dari hubungan anak dengan orang tuanya. Bahkan, tidak jarang orang tua mengeluh akan kenakalan anaknya saat ini. Padahal seharusnya orang tua bisa membangun komunikasi yang lebih intens dengan anak, karena orang tua sebagai orang terdekat dari anak tersebut. Membangun komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak sangat diperlukan, agar terciptanya kedekatan dan keterkaitan diantara mereka, tentu saja orang tua juga harus memperhatikan perkembangan anaknya dalam kehidupan. Selain faktor tersebut di atas faktor lain adalah lingkungan pertemanan. Pertemanan sangat mempengaruhi anak dilingkungannya. Bisa jadi teman menjadi role model anak ketika dia belum menemukan role model yang tepat baginya saat itu, karena orang tua yang tidak mengarahkan dan memperhatikan anak tersebut. Selain 2 faktor penting di atas akan di jelaskan beberapa faktor yang lain, yaitu:

a.       Faktor Keluarga

Keluarga yang tidak harmonis dapat menjadi salah satu penyebab nakalnya anak ketika tidak diberikan arahan khusus untuknya. Selain itu KDRT juga menjadi faktor terpenting, karena anak tidak mendapatkan perhatian dari orang tua disebabkan orang tua sibuk bertengkar, maka anak akan mencari perhatian keluar rumah dan melampiaskan kenakalannya di sana. Kurangnya kasih sayang juga penyebab kenakalan remaja. Selain itu berlebihan dalam mendidik anak seperti terlalu memanjakan atau terlalu keras dalam mendidik anak juga dapat menjadi faktor penyebab kenakalan anak. Terlalu dimanja anak akan merasa kalau segala sesuatu yang dia inginkan harus dipenuhi tanpa memikirkan dampaknya, dan anak akan memberontak jika keinginannya tidak terpenuhi. Terlalu keras dalam mendidik anak akan menyebabkan tekanan dalam dirinya dan kekangan yang dia tidak inginkan, oleh sebab itu anak akan melampiaskan dengan kenakalan di luar rumah.

 b.      Faktor Religi

Orang tua juga harus memberikan pendidikan agama kepada anak, karena pelajaran moral banyak terkandung dan diajarkan di dalam agama, khususnya agama Islam.

 c.       Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi juga dapat menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. Ekonomi yang kurang akan menjadikan anak melakukan segala hal untuk memenuhi keinginannya, seperti mencuri dan lain sebagainya. Kelebihan ekonomi dan berdampak pada memanjakan anak juga dapat menjadi faktor seperti yang telah disebut di atas.

 d.      Lingkungan Pergaulan

Lingkungan pergaulan juga sangat penting untuk diperhatikan, karena anak mudah terpengaruh oleh lingkungannya, disebabkan anak masih mencari jati dirinya. Oleh karena itu lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi perilaku anak menjadi buruk juga. 

 e.       Perkembangan Teknologi dan Informasi

Sekarang dengan berkembangnya teknologi yang sangat pesat semua informasi dari seluruh dunia dapat diakses tanpa adanya filter terlebih dahulu melalui internet. Ini menjadi salah satu faktor penyebab kenakalan remaja tanpa adanya pengawasan dari orang tua. Mereka dapat mengakses segala macam konten dan informasi di internet tanpa terkecuali, bahkan banyak situs yang menampilkan informasi-informasi yang berbahaya bagi remaja jika tanpa ada pengawasan orang dewasa.

 

Lalu siapakah yang bertanggung jawab atas turunnya moral remaja Indonesia? Padahal Indonesia dikenal dunia karena budaya sopan santun, ramah, dan bertata krama. Bangsa Indonesia khususnya generasi muda harus menunjukkan jati diri sebagai warga negara Indonesia dan mempertahankan nilai-nilai luhur yang telah dibangun para pendahulu. Moral-moral bangsa harus diajarkan lagi dan tidak boleh dikesampingkan. Pendidikan moral jangan hanya wacana tapi juga laksana untuk mengembalikan jati diri bangsa. Bila perlu bukan hanya nilai ujian saja yang menjadi kosekuensi tidak lulusnya siswa dari sekolah, namun yang terpenting adalah nilai moral dan perilaku. Bahkan seharusnya menjadi acuan utama adalah nilai moral dan perilaku dalam kehidupan remaja ketika kelulusan sekolah. Kenapa demikian? Karena apalah arti ilmu jika manusia tidak punya akhlak yang baik. Seperti kata pepatah “Orang yang Berakhlak Pasti Berilmu Tapi Orang yang Berilmu Belum Tentu Berakhlak”. Hal ini mencerminkan bahwa nilai moral atau akhlak adalah terpenting dari segalanya. Untuk apakah ilmu jika orang tidak punya akhlak, hanya menjadi sampah yang ilmu dia dapat tidak bisa dia amalkan.

Maka dari itu segala elemen masyarakat harus ikut andil dalam memperbaiki moral generasi penerus bangsa. Orang tua, guru, orang-orang lingkungan sekitar, ulama’, pemerintah, dan lain sebagainya harus mengambil peran penting demi budaya luhur bangsa yang tidak boleh hilang. Mereka harus besinergi kuat demi berlangsungnya kehidupan bangsa yang sejahtera, aman, tentram, dan damai. Semua bertanggung jawab atas perubahan ini, tidak dapat menyalahkan satu sama lain, apalagi mendeskriditkan pihak tertentu. Merubah pola pikir juga perlu demi memperbaiki peradaban umat manusia yang sudah mulai rapuh.

Pendidikan karakter sangat diperlukan untuk membangun dan mempertahankan karakter bangsa. Keluarga, sekolah dan masyarakat adalah 3 hal yang penting untuk membangun karakter. Ada tiga hal lain yang harus terintegrasikan dalam pendidikan karakter, pertama anak harus bisa membedakan baik dan buruk, kedua anak terdorong dan cinta terhadap perbuatan baik dan tidak suka terhadap perbuatan yang buruk, ketiga anak suka melakukan perbuatan yang baik dan menghindari perbuatan yang buruk. Ini adalah dasar dalam pembentukan karakter mereka. Dengan adanya pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, anak akan menjadi cerdas emosi. Ini adalah bekal penting mereka untuk menghadapi segala macam rintangan dalam kehidupan. Maka dari itu pendidikan karakter adalah kunci keberhasilan individu yang termasuk di dalamnya keberhasilan akademi.

Moral dan etika yang baik dalam setiap individu adalah kunci keberhasilan bangsa Indonesia dalam mempertahankan budaya norma dan nilai yang mengakar di dalam tubuh masyarakat. Namun, kenyataannya remaja Indonesia mudah melupakan itu, dan menggantinya dengan pengaruh budaya luar negeri yang banyak tidak sesuai akar budaya norma bangsa. Kesalahan yang fatal dianggap wajar, tidak merasa bersalah, malu dan malah merasa bangga ketika orang lain mengetahuinya. Itulah fakta miris yang terjadi di kalangan remaja Indonesia. Oleh karena itu semua aspek masyarakat harus sadar betul dan memulai langkah untuk mencegah penurunan moral bangsa dan meningkatkan kembali sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan agama dan budaya luhur bangsa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi #2 Sadari Kekuranganmu, Akui Kerendahanmu

Refleksi #1 Sadarkah Bahwa Kita Merasa Kuat Padahal Sebenarnya Lemah?

Opini #2: Stop Galau